18.2.18

Never Been Better

Ketika kebanyakan teman-teman saya mengunggah foto ulang tahun dengan caption #quarterlifecrisis atau curhat satu paragraf tentang bagaimana membingungkannya hidup pada fase usia ini, saya cuma tersenyum sinis sekaligus jumawa, saya sudah melewati sejuta pertanyaan tentang diri saya dan apa yang saya mau dari hidup saya beberapa tahun belakangan. Saya sudah terbiasa dan sudah tidak lagi risau. Saya sedikit banyak memahami bahwa tidak ada krisis yang perlu dipikirkan berlebihan, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan keputusan yang ada di dalamnya akan selalu hadir, dan tidak semua perlu dijawab. Standar hidup akan selalu muncul, membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain tentu juga mudah, tapi apa iya mau terus-terusan begitu? Pingin bisa nerima diri sendiri perlu diomongin supaya seluruh dunia tahu? Jahatnya, pacar saya pernah bilang, "ga semua orang mau dengar apa pendapatmu". Lucunya kalimat itu saya artikan lain, saya berhenti kasih komentar terhadap hal-hal yang menurut saya hanya akan bikin lelah. Saya berhenti kasih nasihat percintaan ke teman saya yang ga akan ngejalanin. Saya berhenti minta tolong sama teman kantor yang dikasih tau ga ngerti-ngerti, dan ngedoain dia supaya cepet nikah sama teman kantor yang lain supaya salah satunya cabut, saya juga berhenti ngingetin pacar saya supaya makan yang sehat. Pada akhirnya nasihat saya mungkin hanya penting untuk diri saya sendiri.

Selain itu, tentang menemukan belahan jiwa.
Menulis tentang mencari pasangan, menulis tentang pernikahan, menulis tentang mencintai seseorang hanya akan menjadi sebuah tulisan berisi gagasan kosong karena saya belum melaluinya secara komplit. Pernah tidak sengaja saya masuk ke sebuah portal berita yang memaparkan bagaimana pandangan kultur Jawa tentang pernikahan dan berujung dengan nangis sesenggukkan, sederhana, saya belum bisa menjalani yang demikian, padahal setelah dipikir-pikir ga ada juga yang bilang harus demikian. Saya bisa menghadapi pernyataan dan pertanyaan tentang "kapan nikah?' dkk dengan lebih kalem. Mungkin orang-orang beneran ngedoain saya, dan saya amini saja.

Kepercayaan diri saya yang selama ini cuma bayang-bayang dari influence orang lain sedikit demi sedikit jadi punya warnanya sendiri, and nothing, nothing feels better than having it. Saya ga perlu validasi banyak orang untuk bahagia, ga perlu validasi harus A harus B, I become my own most loyal company and perhaps that's what I've been wanting to be after all this time.

I hope you also have amount of courage to love yourself fully, whatever you like.

FPL


No comments:

Never Been Better

Ketika kebanyakan teman-teman saya mengunggah foto ulang tahun dengan caption #quarterlifecrisis atau curhat satu paragraf tentang bagaimana...